jump to navigation

orang gila orang gila itu September 25, 2009

Posted by liyak in kisah nyata.
20 comments

Rumah saya dipinggir jalan Semarang-Yogya.

Berpagar bambu dan membuat orang tidak segan untuk mampir berteduh saat hujan deras, termasuk orang gila yang sedang capek pun sante aja mampir.

Banyak sekali keuntungan punya rumah ditepi jalan utama provinsi.

Dan saya berterima kasih pada Ibu yang puluhan tahun yang lalu telah ‘memaksa’ Bapak untuk mencari tanah yang letaknya di pinggir jalan raya.

Ada kisah2 unik tentang rumah saya yang berkaitan dengan orang gila.

  • Mbah Soma

Adalah laki-laki tua tetangga saya. Meski dia gila, pengikutnya sangat banyak. Kebanyakan dari ras kuning dan mobilnya berplat luar daerah. Banyak yang percaya, Mbah Soma adalah dukun. Waktu saya masih SD, Indonesia sedang marak dengan judi resmi yang diadakan pemerintah atas inisiatif  Sudomo yang waktu itu seorang mentri, lupa mentri apa, yang jelas saya mengingatnya sebagai mentri SDSB (sumbangan Dana Sosial Berhadiah, kalo sekarang ya gampangnya togel) dan PORKAS (kepanjangannya lupa, ini judi yang katanya hasil uangnya untuk mendanai kegiatan olahraga nasional)

Na, para pengikut Mbah Soma ini selalu mencatat gerak-gerik dan perkataan Mbah Soma untuk kemudian dimistik (dianalisis untuk kemudian dihubungkan dg angka2). Suatu ketika, tiba-tiba Mbah Soma masuk ke rumah saya, dimana saat itu rumah saya juga sebagai Kantor Pengawas Pendidikan Agama. Siang itu, seperti biasa jika sudah tak ada kerjaan, ayah saya maen catur dengan temannya. Mbah Soma nyelonong masuk lalu duduk disamping ayah.

“Payung siji, anting2 sepasang” katanya pada ayah saya. Saya tau yang dikatakannya, karena saat itu saya disamping ayah. Hanya itu yang dikatakannya, lalu Mbah Soma keluar. Para pengikutnya segera ‘menyerbu’ ayah untuk menanyakan apa yang dikatakannya. Ayah menjawab apa adanya. Itulah terakhir kali saya melihat Mbah Soma. Sekitar seminggu setelah kedatangannya siang itu, dia meninggal akibat ‘kunduran’ mobil (jadi ada mobil mundur, mbah Soma ada dibelakangnya dan tergilas).

Perkataannya mungkin berarti pamit, karena dia segera akan dipayungi dan dipasangi sepasang nisan

  • Aminah

Seorang wanita tua keturunan arab. Gila tapi matre dan pemarah. Saya takut sekali padanya, karena suka ngejar2. Saya tak tau dia sekarang masih hidup ato nggak, terakhir dia lewat depan rumah, waktu saya masih SMP.

  • Wanita gila tak tau siapa namanya

Dia baru2 aja dateng ke rumah. Berniat bersih2, saya membuka semua pintu dan jendela. Tau-tau dia sudah di ruang tamu sambil bilang ” minta uangnya minta uangnya”. Saya kagt setengah hidup. Secara fisik dia bersih sekali, tak saya duga orang gila. Dia lalu disuruh pergi Ibu. Tapi Ibu saya adalah orang terbaik sedunia, tak pernah mengusir orang gila tanpa membungkuskan nasi beserta lauknya.

  • keluarga gila

Yang ini betul-betul memprihatinkan. Suatu siang saya pulang dari kerja, dikagetkan dan dingerikan oleh keluarga gila ini yang sedang asik nongkrong di teras rumah. Yang perempuan begitu dekilnya, duduk ngangkang menggaruk2 daerah sarunya. Dua anaknya yang masih balita, berlarian dan berpanjatan.Si pria yang saya duga suaminya, duduk sambil melihat-lihat ketiganya. Menurut saya, si pria belumlah gila,karena dia memakai masker untuk menutupi wajahnya , pakaiannyapun lengkap dan tertutup rapat,dan ketika melihat saya datang ia buru2 mengajak keluarganya pergi naek sepeda. Artinya dia masih punya malu,bukankah perbedaan antara orang waras dan orang gila hanyalah rasa malu?

Mereka ini ternyata juga pengembara. Ketika saya bercerita pada teman saya yang ada di Magelang, Salatiga dan Ungaran tentang mereka, teman2 saya bilang ” Iya , aku juga pernah liat mereka di kotaku”

Saya tak bisa membayangkan bagaimana keluarga itu bisa terbina hingga lahir dua anak yang kalo tidak dekil saya yakin cantik dan tampan. Anak2 itu sepantaran dengan anak2 saya. Dan saya menjadi masgul dibuatnya. Mereka hanya bercelana pendek tanpa baju, tatapan matanya liar hingga sayapun takut bersitatap dg mereka.

Pernah terlintas untuk menculik anak2 itu untruk memberikan penghidupan yang layak menurut manusia normal, tapi bahkan orang gilapun punya hak untuk bersama anaknya.

  • Pria calon tentara

Dia seorang pria sekitar 40 taunan. rambutnya kriting, tak terlalu dekil. Daerah edarnya ya tak jauh -jauh dari rumah saya, bahkan kadang ‘njenuk’ di depan rumah saya. Menurut cerita orang-orang, dia menjadi gila karena dulu tak lolos seleksi masuk tentara. Hobinya membuat ‘karya seni’ dari bambu2 tipis yang diikatnya dengan rafia menjadi bentuk-bentuk seperti kandang atau keranjang.Selalu, setiap hari. Herannya, karya seninya tak lalu menumpuk. Mungkin setelah jadi dibongkarnya lagi lalu dibuatnya lagi. Dia sangat pendiam, tak pernah bicara sendiri, hanya diam dan asik dengan dunianya. Kadang saya penasaran seperti penasarannya facebook yang selalu menanyakan ” Apa yang Anda pikirkan?”¬† Tapi tentu saja pria itu tak akan nyetatus ” Saya sedang gila”

  • Toli’ah

Dia tetangga desa saya. Dulu sebelum gila, dia jualan krupuk dan orangnya higienis banget. Ambil krupukpun pake sarung tangan. Dia berusia sekitar 40th, hidup sebatangkara di rumah kecilnya yang 5 tahun yang lalu diperbaiki secara gotong royong oleh warga kampung karena hampir ambruk. Itupun pake acara nyuap Toli’ah dengan uang 50rb agar dia mau pergi sementara rumahnya diperbaiki. Penyebab gilanya sepertinya laki-laki,ditilik dari ocehannya bila sedang ‘ngomnyang’. Tapi dia friendly crazy girl, tidak pernah ngamuk, maka dia bebas berkeliaran. Setiap hari lewat depan rumah saya seperti saat masih waras dulu, sebab dia memang suka jalan kaki ke pasar daripada naek angkot.

Ada peristiwa lucu yang diceritakan oleh Ibu saya tentang Toli’ah. Suatu hari, ada perempuan belanja di pasar tempat ibu saya jualan, uangnya jatuh 50rb diambil oleh Toli’ah. Wanita tadi baru sadar kalo uangnya ilang waktu sampe dirumah. Lalu dia ke pasar lagi untuk mencari uangnya, diberitahu oleh yang melihat bahwa uangnya diambil Toli’ah. Trus dia nanya dimana rumah Toli’ah. Berhubung dia mendapat info Toli’ah adalah orang gila, maka dia mengajak suaminya untuk meminta uangnya dikembalikan (buat orang desa seperti kami, 50rb besar sekali nilainya, mungkin itu penghasilan 5 hari kerja). Berangkatlah mereka ke rumah Toli’ah. Beruntung orang yang dicari di rumah.

“Mbak, boleh minta uang yang tadi kamu temu?” kata si suami. Toli’ah tak langsung menjawab melainkan langsung menggeletakkan tubuhnya di lantai¬† tepat di bawah kaki si laki-laki sambil melepas celana dalamnya

“Sini Mas wong bagus…aku sudah lama nunggu lhooo” katanya genit bersemangat.

Si wanita yang kehilangan uang menyeret pergi suaminya. “iklaskan saja uangnya Mas. Wong edan gak bisa diajak rembugan” katanya… hahahahahaha

Ssssst…kalo kadang saya seperti orang gila, mungkin karena terlalu sering saya bertemu orang gila kali ya? Hehehehe, merasa bangga jadi orang gila yang punya blog. Maybe I’m the one …..:-)

Iklan