jump to navigation

Perempuan Desember 11, 2012

Posted by liyak in kisah nyata.
Tags: ,
trackback

Menurut saya (bukan berdasar survey,tp hanya pengamatan terhadap perempuan2 yg saya kenal), perempuan cenderung punya sifat alami masochis.

Tapi alam menganugerahi sifat masochis itu dengan daya bertahan yang hebat. Banyak saya kenal perempuan yang dideritakan pria atas nama cinta ataupun pernikahan dan pilihan mereka sama yaitu bertahan (kalo saya ya maap maap aja :D)

Pernah  datang pada saya seorang teman, dengan nama samaran Kanabisa, nangis nangis karena suaminya selingkuh ini dan itu. Saran saya tegas : maumu apa? kalo kamu nggak mau dibegitukan, tinggalin dia. Tapi jawabannya jadi panjang…tentang anak-anak,tentang status janda dan sebagainya. Pada akhirnya, sampai hari ini (sudah beberapa tahun) dia tetap bertahan. Sungguh saya berdoa perempuan2 selingkuhan suaminya itu bukan ODHA. Ngeri aja bayanginnya, kalo sampe temen saya yang setia itu kena HIV karena perilaku suaminya.

laen lagi perempuan yang lainnya. saya pikir dia – kita sebut saja Laluna- dan suaminya adalah keluarga yang adem ayem tentrem loh jinawi. cantik dan tampan. Dua tahun saya mengenalnya, akhirnya dia cerita juga bahwa ada masalah dalam rumah tangganya. Sejak menikah tak dinafkahlahiri karena si suami lebih suka menjadi kebanggaan ibunya yang selalu menyerahkan gaji untuk kebutuhan ibu dan adik-adiknya.

Oke saya setuju, selamanya laki-laki itu milik ibunya, jadi sebagai istri tidak boleh protes kalo suami tetap menafkahi ibu juga adik2 perempuannya (Saya termasuk yang saklek dalam hal waris mewaris, bagian laki2 lebih banyak karena memang tanggung jawabnya besar,termasuk menafkahi ibunya dan sodara2 perempuan yang tdk bersuami. Saya paham banget maksud Si Pembuat Hukum Warisan itu. Masalahnya nggak semua laki-laki muslim ngerti hal ini :D), tapi kalo sampai mezalimi anak istri…weelha! Nehik kalo saya.

Herannya, Laluna  ini begitu sabar sudah hampir 6 tahun bertahan seperti itu (dia malaikat apa ya? wkwkwk), padahal dalam taklik nikah yang dibaca suaminya dulu jelas batasan waktu ‘kesabaran tidak dinafkahi’nya itu berapa bulan (3 bulan apa 6 bulan ya?ntar saya tengok buku nikah deh wkwkwkkw nggak inget soalnya itu bukan janji saya tapi janji suami). Kalo dia nggak rela, dia cukup bawa uang sepuluh ribu ke pengadilan agama untuk meminta talak. Tapi urusan cinta dan pernikahan memang nggak pernah sesimpel itu ya. Weits! Jadi inget. Cinta? Sssst, ini sisi parahnya, si temen ini nikahnya bukan karena cinta pula. KwaKKK banget kan?

Jadi ceritanya, dia itu tadinya mau dijodohin sama ortunya, na dia gak mau. Ngakunya dah punya pacar sendiri,padahal belum. Trus kebetulan waktu KKN ketemulah dia sama laki2 itu, yang ternyata naksir dia. Mungkin waktu itu dia pikir, daripada dijodohin sama orang yang blas nggak kenal, mending sama teman sendiri. But…kisahnya tak selancar yang diharapkan :(.

Sekarang dia dalam masa2 ragu mau bertahan atau berhenti, dan lagi-lagi yang menjadi alasan adalah anak-anak yang menurutnya butuh sosok ayah. what the hell. Masochis banget kan?

Ada pula perempuan, yang memaksakan diri untuk sakit meski sebenarnya dia punya peluang untuk bahagia. Ini ceritanya agak ngeri menurut saya, karena dia punya kesempatan bebas tapi dia memilih masuk dalam dunia yang dia gak bakal ngerti sakitnya. Saya bukannya tidak mengingatkan, tapi apa sih gunanya nasehatin orang yang sedang jatuh cinta sampai hilang logika?

Sebut saja namanya Apsala (jelas bukan nama sebenarnya ya). Apsala ini tadinya pacaran dengan Gundala (ini jg bukan nama sebenarnya. bukan putera petir. saya sebut gitu biar serasi aja dengsn apsala). Tiap hari bertemu di kampus yang sama membuat mereka tetap runtang runtung meskipun sebenarnya mereka telah putus. Bahkan saling berkunjung ke rumahpun tetap dilakukan. Masalah timbul dari sini…..

Ortu Apsala, seperti jamaknya ortu2 Jawa lainnya, sangat ingin anaknya segera menikah karena usia menjelang 30 masih perawan di desa jelas aib. Apsala dan gundala sendiri merupakan dua pembohong yang tak berani mengakui bahwa mereka sudah putus. Apsala sih masih cinta mati pada Gundala, tapi Gundalanya enggak. Dia hanya mencoba berlaku sopan dan tak menyakiti. Dari sudut pandang saya, hal ini dimanfaatkan Apsala untuk menggiring opini publik (dalam hal ini pihak keluarga Apsala) bahwa mereka masih pacaran.

Didesak sana sini untuk segera menikah, Apsala terjepit dan ganti mendesak Gundala meski dia bukan tidak tau bahwa Gundala sudah tak mencintainya. Gundala sendiri sebenarnya sudah menolak dengan halus, saking halusnya sampai nggak kerasa :D. Finally, dengan berat hati, Gundala mengiyakan untuk melamar Apsala. Ortu Gundala, sebenarnya nggak sreg dengan Apsala bahkan secara eksplisit pernah menyatakan bahwa  mereka sebenarnya senang saat Gundala Apsala putus. Apa lacur, ortu Gundala juga nggak mau memaksakan kehendak disini. Mereka pikir,karena Gundala mau,berarti Gundala juga masih cinta pada Apsala.

Dalam kekisruhan suasana hati yang terpaksa mau menikah, Gundala bertemu Bianglala (skali lg bkn nama sebenarnya)….dan mereka saling jatuh cinta…

Gundala dengan ksatria mengakui bahwa dia akan segera menikah, tp tak bisa membohongi diri bahwa hatinya untuk BIanglala. Entah apa yang dirasakan Bianglala, sedihlah pastinya, terjebak dalam cinta bermasa depan suram.

Kenapa tak kau batalkan saja? saya bertanya pada Gundala, dan jawabannya sangat dangkal dan tak masuk akal “terlalu banyak yang akan jadi korban jika saya tak jadi menikahinya. kalo saya menikah dengan dia korbannya hanya dua”. Dua itu yang dimaksud siapa saya nggak nanya. Mungkin dia dan Bianglala, atau dia dan Apsala. Tapi dalam pandangan saya, ini adalah kehancuran nyata, semua jadi korban. Pernikahan seperti ini apa benar2 pernikahan? Bianglala patah hati, Gundala kecewa, dan Apsala? Ah dia kan umumnya perempuan, masochis. Dia tau kan Gundala nggak sepenuh hati, tapi demi ‘membungkam’ keributan keluarga dia tetap bertahan meski tak dicintai. But, saya tak menyalahkan Apsala. Dia cerdik memanfaatkan ketaktegasan Gundala. Banyak perempuan seperti itu,seakan mati bila tak bersama dengan lelaki yang dicintai, jadi tersiksa karena cintanya tak berbalaspun tetap dilakoni asal si lelaki jadi miliknya. Masochis parah. Dan jauh memandang ke depan, saya berdoa, bila nanti mereka benar-benar menikah, tak kan ada anak-anak yang menjadi korban keegoisan Apsala dan ketaktegasan Gundala ini.

Mengenai Bianglala, dia juga masochis, setelah tau keadaan Gundala, toh dia tak melepaskan. Bersakit-sakit menikmati kebersamaan dengan Gundala sampai tanggal pernikahan Apsala Gundala.. (Saya sempat menantang Gundala untuk menikahi keduanya :D)

 

Kanabisa, Laluna, Apsala dan Bianglala mungkin terlalu sedikit sebagai sample hipotesa saya. Tapi saya yakin Anda juga banyak mengenal perempuan2 masochis lainnya, yang lebih senang menyakiti diri demi sebuah status sosial di masyarakat ketimbang memberanikan diri untuk bahagia sebenarnya. Saya tak bermaksud mencemooh ketakberanian mereka, tapi saya yakin bahwa pendapat saya tentang kemasochisan (sebagian besar) perempuan itu benar adanya. Bahkan untuk hal remeh temeh seperti biar punya bulu mata lentikpun,perempuan rela kok kejepit penjepit bulu mata 😀

 

Kalo tentang lelaki gimana? Menurut saya, kebanyakan lelaki itu senang membuat salah paham. tapi itu laim lagi kisahnya. panjaaaaaaang. laen kali ya 🙂

 

Iklan

Komentar»

1. dheean - Desember 11, 2012

sukaaaaaaaaaaaaaaa

liyak - Desember 11, 2012

sebenernya mau kujawab ‘samaaaaaaaaaaaaaaa’ tp kok kesannya narsis bgt, jd kujawab ‘terima kasih’ sambil senyum manis aja ya. tq dah berkunjung 🙂

2. termos es - Desember 11, 2012

kwkwkwkw…………belum tahu? ada yang indah di balik sisi pelik itu.

liyak - Desember 11, 2012

haissss sukanya cari yg di dlesepan2 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: