jump to navigation

ONLY HEAVEN KNOWS Februari 24, 2016

Posted by liyak in agak fiktif.
Tags: , , , ,
add a comment

Iya , saya masih punya utang untuk menyelesaikan cerpen saya terdahulu yang meskipun ide sudah ada, sudah tamat di pikiran saya, tapi belum bisa saya ungkapkan secara sistematis dan romantis.

 

Sambilan nunggu epilognya, saya bagi dulu cerpen yang saya tulis sebelum tahun 2004, tapi saya lupa tepatnya kapan. Sebuah cerpen, yang nggak saya sangka akan tetep up to date dengan keadaan sekarang.

Selamat menikmati 🙂

 

ONLY HEAVEN KNOWS

            Aku masih menatapnya dengan kekaguman yang dengan rapat kusembunyikan di balik retina. Dia , seperti biasa, bercerita dengan penuh semangat dan mata berbinar. Kali ini ceritanya adalah tentang liburannya ke Yogya, tempat eyangnya.

“ Kamu sih, aku ajak nggak mau. Rame lagi. Sepupu-sepupuku ngumpul trus kita jalan bareng” celotehnya.

“Ya nggak enak dong Rin” jawabku.

“Pokoknya ntar kamu ke rumahku. Ada oleh-oleh buat Mamamu. Gede banget, jadi aku gak bisa bawa”

“Kok Cuma Mama yang dioleh-olehin? Aku gimana?”

“Lho? Pas aku nanya pengen dioleh-olehin apa, kamu bilang asal aku pulang dengan tetep cantik,kamu udah seneng. So here I am” kalo gak inget ini di kelas, udah kucium dia habis-habisan karena gemas (well, aku ragu sih bahwa aku akan segila itu meskipun ini nggak  lagi di kelas).

“”Ya tapi gadis cantik dengan sekeranjang oleh-oleh tentu menyenangkan”

“Terima kasih. Aku memang cantik dan aku bahkan membawa lebih dari sekeranjang oleh-oleh, tapi nggak ada yang buat kamu” dia tertawa.

“Rin!” pekikku sebal.

“Anterin ke kelas Rian dong Jay” katanya setelah reda tawanya. Cresss! Ada sembilu menyayat tepat di bilik kiri jantungku, mati-matian aku meredam darahnya mengalir ke wajahku.

“Mau ngapain?” tanyaku biasa, tepatnya berusaha sebiasa mungkin. Dia tersipu.

“ Masih inget nggak surat yang dikasih Rian ke aku sebelum liburan? Katanya malu-malu. Kali ini bukan hanya sembilu, melainkan ditambah paku, seribu.

“Kamu nerima dia ya Rin?” darah berhenti di lidahku, kelu, dan aku terlambat menyesali bahkan menyadari ucapanku. Rin menatapku curiga. Dia mencondongkan tubuhnya padaku.

“Sounds like a disagreement. What’s wrong Jay? “

“Siapa bilang!” sergahku, menutupi apa yang baru saja hampir atau sudah meski sedikit terbuka.

Masih terpampang jelas di ingatanku saat Rin begitu senang menerima surat itu, dan sialnya bahkan aku masih ingat persis semua kata-katanya.

Kepada Yth.

            Arina Kusuma Ningtyas

            Di tempat.

 

            Dengan hormat.

            Bersama surat ini , saya :

                        Nama   :  Febrian Putra Santoso

                        TTL     :  Semarang, 10 Desember  1987

                        Alamat  :  Erlangga V / 07 Semarang

                        Sekolah:   SMA 1 Semarang , Kelas 2 IPA 1

            bermaksud mengajukan lamaran untuk menjadi pacar saudari.

            Sebagai bahan pertimbangan, berikut ini saya lampirkan :

                        1 lembar foto berwarna  ukuran 3R.

                        1 lembar fotokopi nilai rapor  kelas 1.

            Besar harapan saya agar dapat diterima dengan suka cita.

            Demikian surat ini saya buat tulus dari lubuk hati terdalam. Terima Kasih.

                                                                         

                                                                        Semarang, 5 Mei 2004

                                                                        Hormat saya,

 

                                                                        Febrian PS

 

            Surat nyleneh itu berhasil membuat Rin berulang kali membacanya, yang mengesalkan, dia membacanya di depanku dengan berbagai pujian tentang gantengnya Rian, tentang pinternya Rian, lucunya Rian dan ini dan itu blab la bla. Hah! Sudah gila si Rin. Bagiku Rian tetep aja konyol, bahkan namanya saja sudah merupakan kekonyolan, kenapa namanya Febrian padahal lahirnya bulan Desember?

Dan ajaibnya, aku tetap saja mengawal Rin ke kelas Rian, mengantarkan surat balasannya. Entah apa alasan mereka memilih surat daripada sms, padahal keduanya punya hape.

Setelah hari itu, dunia tak lagi sama buat aku. Waktu istirahat tidak lagi begitu kutunggu-tunggu. Lalu aku mulai mencari alasan agar tidak menghabiskan istirahat bertiga dengannya dan Rian. Lapangan basket  jadi pelarianku. Bergabung dengan anak-anak lain yang mencintai keringat. Di sana aku jadi kenal beberapa anak yang selama ini nggak kutau namanya, salah satunya Oliv,teman sekelas Rian yang putihnya bertentangan dengan hobinya panas-panas maen basket. Seneng aja liat sosok semampainya saat mendrible bola.

“Untung Rian jadian sama sohibmu ya Jay, jadi kamu bisa nemuin bakat terpendammu maen basket hahahha” guraunya Oliv suatu ketika. Untung mbahmu, rutukku dalam hati.

Sebenernya Rin nggak berubah, dia tetap baik dan mendahulukan aku daripada Rian. Dia bukan jenis orang dengan gaya pacaran show off kemana-mana berdua.  Rin tetap berlaku manis padaku, tapi kenyataan dia kini punya pacar , membuatku tak sempurna merasakan manisnya. Seperti menyesap madu yang tertetesi air buah mengkudu.

“Kamu marah sama aku ya Jay? Tanya Rin siang itu ketika untuk kesekian kalinya aku menolak ajakannya ke kantin.

“Kalo aku marah ke kamu, aku gak mau sebangku dan ngomong ama kamu lagi” diplomasiku.

“Bener nih?” dia menelengkan kepala sambil membelalakkan mata. Ingin kucongkel saja mata indahnya itu (bukan salahku lahir jauh setelah Iwan Fals lahir. Coba duluan aku, tentu aku duluan yang bilang begitu).

“Bener. Aku Cuma lagi bosen makan” bohongku habis-habisan.

“Ya udah deh. Aku pergi dulu ya” dia meninggalkanku setelah aku bilang oke. Ah, Rin… Andai saja aku bisa mengungkapkan perasaanku padamu tanpa peduli akibatnya. Aku terlalu sayang pada persahabatan ini. Selain itu, ada hal lain yang lebih dari persahabatan yang membuatku berteguh hati untuk membiarkan rasa ini tak terungkap.

Tapi tak selamanya aku bisa mencari alasan. Siang itu hujan, aku jadi nggak bisa maen basket, dan karenanya aku nggak punya alasan untuk menghindari ajakan Rin. Dia menyeretku begitu saja, tak peduli jantungku hampir meledak saat kulit tangannya yang selembut es krim menyentuh kulitku.

“Kamu nggak bisa nggak jajan ya Rin? “

“Iya. Dan hari ini aku pengen traktir kamu”

“Emang kamu ulang taun?”

“Basi ah”

“Lho? Gak nyamperin Rian dulu nih?” tanyaku heran ketika Rin nggak belok dulu ke kelas Rian. Rin tersenyum penuh rahasia. Dan jawabannya : Rian udah nunggu di kantin, duduk manis sama Oliv. Aku lega dan tidak terlalu kikuk. Untuk pertama kalinya, makan bersama Rin dan Rian tak terlalu membuatku tertekan. Aku asik ngobrol sama Oliv. Hanya saja aku ngerasa Oliv rada aneh, seperti ada isi buah kedondong yang nyangkut di tenggorokannya tiap kali ngomong sama aku, dan pipinya memerah. Kenapa sih ni anak?

“Kamu sakit, Liv?” tanyaku kuatir.

“Iya tuh. Udah semingguan ini Oliv demam” sahut Rian.

“Masa? Kemaren maen basket seger-seger aja kok” sanggahku nggak percaya.

“Kamu sih Jay, nggak peka” kali ini Rin yang bicara. Aku hanya angkat bahu, tapi dalam hati aku tau ada yang nggak beres dengan acara makan siang berempat ini.

Seminggu kemudian firasatku terbukti. Oliv nembak aku, dan aku terlalu shock untuk bicara.

“Kamu nggak harus jawab sekarang” katanya kemudian. Bahkan sampai dia pergi , aku masih sulit mencerna apa yang baru saja terjadi. Dalam hatiku, kuakui kebijaksanaan Rian yang nembak Rin lewat surat konyolnya. Mungkin dia mempertimbangkan akibat tembakan langsung yang daya kejutnya dahsyat, dan dia tak mau Rin mengalami apa yang aku alami sekarang.

Oliv. Aku mengeja namanya dalam hatii. Mau tak mau, aku membandingkannya dengan Rin. Jelas mereka berbeda 180 derajat . Rin   lembut, kasar, lucu, konyol, menggemaskan, menjengkelkan, impulsif, predictable, pokoknya sifatnya lengkap dan campur-campur. Dia sudah menjadi standar kekasih yang kuinginkan. Dan standar itu tentu saja nggak bisa dipenuhi Oliv! Bagaimana mungkin Oliv mengira aku akan mau jadi pacarnya? Dia bahkan 20 cm lebih tinggi dari aku. Nggak masuk akal!

Malamnya, aku ke rumah Rin. Setelah kupikir-pikir, aku harus tau pendapatnya sebelum menerima atau menolak Oliv. Sebenarnya ini pilihan sulit., maksudku tentang pergi ke rumah Rin. Sebab sejak Rin pacaran dengan Rian, aku sudah memutuskan untuk tidak ke rumah Rin kecuali Rin yang minta. Aku terlalu pengecut untuk mau bersakit hati kalau-kalau disana ada Rian. Tapi malam itu, ada atau tiada Rian, aku harus ketemu dan bicara sama Rin. Untunglah, ketika aku sampai disana, Rin sedang nonton tivi, tanpa Rian. Begitu aku bilang mau ngomong penting, Rin langsung menyeretku ke kamarnya. Mendadak aku gemetar.

“Di gazebo aja Rin, aku butuh udara segar” pintaku. Sejak sadar aku jatuh cinta padanya, aku nggak mau masuk kamarnya kalo maen ke rumahnya. Aku jadi cemburu sendiri memikirkan bahwa sekarang Rian ada di kamar Rin, meskipun cuma fotonya.

“Oke Jay, speak up” ceplos Rin begitu kami duduk di gazebo.

“Ah,kamu Rin! Aku jadi grogi nih! Kayak ngadepin interogator aja” dia terkekeh. Berhubung basa-basi bukan nama tengahku, maka aku hanya mengeluarkan pertanyaan singkat,padat,berat (yang terakhir ini hanya biar serasi aja).

“Enaknya aku nerima atau nolak Oliv?”

“You what?” dia melotot “Jay! Kamu sadar gak sih? Oliv gitu loh! Masa ditolak? Gila kali! Dia tuh naksir kamu udah lama Jay, tapi gak berani bilang karena takut kamu tolak”

“Brarti sekarang dia pikir aku gak akan nolak? Kepedean tuh anak” sungutku benar-benar merasa terlecehkan.

“Nggak” kali ini nada bicara Rin merendah “sebelum nembak kamu, dia bilang ke Rian,dia udah nggak takut lagi. Bagi dia sekarang,kamu nerima atau nolak dia bukan hal penting lagi, karena yang penting dia udah berani ngungkapin perasaan dia ke kamu, Cuma itu”

“Trus kalo aku gak jawab, gimana?”

“Ya dia tetep sayanglah ke kamu”

“Sampai berapa lama?”

“Dia nggak bilang soal itu. Tapi apa salahnya kalo terima saja? Oliv asik kok. Gak pernah denger gosip buruk tentang dia kan?”

“Iya sih”, jawabku.

“Jadi kalo kamu tanya pendapatku, mending diterima aja. Sama sekali nggak rugi. Malah untung, at least kita bisa double date”.

Zinggg! Double date? Rin gila!!! Apa dipikirnya aku akan tahan melihat tangannya yang selembut beludru berada dalam genggaman Rian? Atau pundaknya direngkuh Rian dalam pelukan? Aku jadi mempertanyakan kewarasanku sendiri yang sudah jatuh cinta pada gadis ‘sesadis’ Rin. Tapi ada suara lain di otakku. Kenapa tidak? Maksudku, soal double date itu. Bukankah selama ini aku merasa kehilangan Rin sejak Rian jadi pacarnya? Bukankah untuk bersama orang yang kita cintai harus ada pengorbanan? Dan terakhir, bukankah tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk orang yang kita cintai?

Double date, aku mengulang kata itu dalam hati. Apa pengorbananku untuk bisa bersama Rin itu tidak berlebihan? Apalagi sampai menjadikan Oliv yang polos dan baik hati sebagai ‘bemper’. Tapi apa ada solusi selain itu? Apa iya aku harus menantang Rian dan memaksa Rin untuk jadi pacarku, yang resikonya aku akan kehilangan semua yang selama ini telah kumiliki : persahabatan dan kepercayaan Rin.

“Helooo? Am I alone?”” suara Rin menyadarkanku.

“Sorry, sampai dimana tadi? Oya…double date emm…maksudku …eh ..tapi aku nggak punya perasaan seneng ke Oliv, Rin” kataku akhirnya. Yang kusuka hanya kamu, tambahku dalam hati.

“Kamu cuma perlu belajar , Sayang. Eyangku bilang, beliau dulu dijodohin, nggak ada cinta sedikitpun, toh nyatanya lahir Mami dan om-omku”

“Hey! Itu nggak ada hubungannya sama cinta lagi!” protesku. Tapi bukan Rin kalo nggak ngebantah.

“Well, it’s okey. Mungkin pertamanya keterpaksaan aja, tapi kata Eyang, witing tresno jalaran saka kulina, kurang lebih artinya akhirnya cinta juga karena nggak ada yang lain” kata Rin serius yang membuatku jadi nyengir.

“ Baiklah Rin, kalo itu maumu” jawabku pasrah.

“Kok mauku? Aku nggak maksa lho Jay” Rin tersinggung.

“Sorry, maksudku kalo menurutmu baek. Aku percaya kamu. Tapi aku minta kamu janji ke aku satu hal” Rin tertawa.

“hey..bukan aku yang akan kamu pacarin, kok jadi aku yang harus berjanji sih. Tapi oke deh, kamu pengen aku janji apa?”

“Kita harus sering-sering double date”

 

Sudah 4 kali kami double date setelah malam itu. Kadang aku sengaja mesra-mesrain Oliv di depan Rin, ngarep dia cemburu. Alih-alih cemburu, Rin malah menatapku senang dengan pandangan apa-ku-bilang-? Aku tau aku nggak bijaksana saat memutuskan untuk menerima Oliv, tapi aku nggak nyesel karena sekarang aku punya kesempatan untuk bersama Rin bahkan saat dia bersama Rian ,tanpa merasa dikacangin. Mungkin aku masih akan sakit hati berkali-kali nanti setiap melihat Rian begitu bahagia di samping Rin dan Rin yang selalu menatap Rian dengan tatapan memuja. Mungkin juga nanti aku akan melaksanakan kata-kata bijak yang pernah kudengar di sebuah serial TV (Angel? Buffy the Vampire Slayer? Sori,aku lupa) : if you can’t be with someone you love, then love someone you with, soalnya Oliver lumayan asik juga anaknya, meskipun aku masih aja nggak nyaman setiap kali merasakan sikap protektifnya. Terbiasa melindungi Rin, aneh aja rasanya dilindungi. Satu hal yang pasti, aku nggak akan putus asa. Aku yakin suatu saat nanti akan tiba waktuku untuk menyatakan dan mengekspresikan rasa cintaku ke Rin tanpa malu, ragu dan takut. Aku akan sabar menunggu hari itu, hari dimana Tuhan akan menyatukanku dengan orang yang kucintai.

Sementara menunggu tibanya hari itu, selama di sini, di dunia ini,biar saja Rin (cuma) sahabatan sama aku, Jayanti.

 

====demikianlah cerpen ini.

 

 

Iklan

aku dan pacarku (part 1) Februari 25, 2012

Posted by liyak in agak fiktif.
7 comments

……    sebuah cerita persembahanku untuk teman2 seperjuangan dan anak-anak tersayang di SMK Sudirman 1 ambarawa, SMK Tunas Harapan Tengaran, dan special teman2 di SMKN 1 Jambu…..semuanya di kabupaten Semarang Jawa Tengah…. (SMK BISA!!!!)

Aku tersenyum puas dengan hasil akhir yang dicapai pacarku dan timnya dalam turnamen basket sore ini. Dia jadi top scorer! Gelar manis sebagai penutup ‘karirnya’, soalnya kelas XII nanti dia sudah tidak ‘dipakai’, harus konsen ngadepin UAN.Dengan sabar kunanti dia keluar dari ruang ganti. Oh! Here he comes! Badannya yang menjulang selalu saja membuat jantungku berdegub kencang saat dia berjalan mendekatiku. Dia hanya tersenyum tipis lalu menggandengku berjalan ke tempat parkir.Lalu aku akan cerewet bercerita ini itu hanya untuk mendengarnya berkata ‘hm’.Ah, Pacarku. Kamu bikin aku gemes.

Namanya Juno (yups,nickname dari Arjuno). Alih-alih flamboyan seperti tokoh wayang itu, Juno justru adalah cowok cool. Tak terlalu peduli penampilan (karena apapun yang dia kenakan hanya akan semakin menonjolkan kecakepannya). Jago basket, gitaris pula di salah satu band sekolah, cowok idaman banget kan? Aku ingat, waktu awal kami jadian banyak yang syok. Haha! Don’t get it wrong! Bukannya aku nggak cantik, tapi aku memang bukan tipe gadis yang diharapkan khalayak akan terlihat dipacarinya. Dan aku juga bukannya nggak denger apa pendapat orang,tapi so what? Juno mau kok jadi pacarku. Ups! Hehe iya, memang aku yang nembak dia.

Hari itu, 14 April,tepat ultahnya yang ke 16, saat dia dikerubuti gadis-gadis yang mengucapkan selamat ulangtahun dan memberinya macam-macam kado, aku berdiri di pintu kelas memanggilnya dengan lantang.

“ Arjuno Atmojo!!!” dia menoleh,gadis-gadis itu terdiam memandangiku,dengan langkah tegap aku menghampirinya , mengulurkan sebuah es krim Cornetto yang baru saja kubeli dari kantin sekolah padanya, menatap tepat ke matanya sambil berkata ” Mulai hari ini, kamu pacarku!” lalu dengan sok cool aku berlalu sambil mengacungkan jempol dan jari telunjukku padanya. Sumpah! Aslinya dadaku mau meledak. Aku masih sempat mendengar derai tawa gadis-gadis itu yang aku yakin mengira aku bercanda. Aku langsung ke kantin, menenangkan diri dengan sebotol teh dingin rasa apel. Meyakinkan diriku sendiri aku tidak sedang gila,tapi tak berhasil. Aku sendiri menganggap apa yang kulakukan itu gila. Pada akhirnya aku hanya memutuskan ‘biarin ah, toh anak itu juga udah bikin aku gila sejak SMP’. Ya, kami memang sudah berteman sejak SMP, nggak akrab sih. Gimana bisa akrab, anaknya pendiam gitu. Aku sih ramah pada semua orang,emmm ya kecuali sama dia. Kelu aja kalo mau omong sama dia. Matanya itu lho,kalo mandangin bikin syaraf jadi kejang semua.

Waktu bel masuk berbunyi, dengan rapalan doa dalam hati,aku masuk kelas tanpa memandangnya yang duduk di seberang bangkuku. Berlagak tak ada peristiwa tadi. Kuanggap aku sudah ditolak,dan hidup harus tetap berjalan,kuselesaikan pelajaran hari itu dengan gemilang.

14 april sorenya,tepat setelah aku mandi,ibuku memberitahuku ada tamu menunggu. God! Memandanginya duduk tenang di ruang tamuku, dengan hem lengan pendek kotak-kotak biru,dengan jeans warna senada …aku seperti mimpi. Melihatku, dia tersenyum…tipis…khasnya. Aku tak bisa menghindar, aku duduk di depannya bersiap mempertanggujawabkan pernyataanku siang tadi. Tapi sebelum sepatah kata keluar dari bibirku…

“Karin, aku nggak mau jadi pacarmu”…sudah kuduga…aku menghela nafas…” Kecuali kalo  kamu juga jadi pacarku” aku nggak bisa ngomong, hanya memandanginya sambil menutupi bibirku yang tersenyum girang dengan tangan kananku.

****

Lelahku berlatih dan bertanding terbayar sudah, kami jadi juara I turnamen basket antar SMK. Dengan badan yang sudah segar sehabis mandi di kamarmandi GOR, kutemui pacarku yang sudah menunggu. Senyum-senyum dia, karena aku sudah menjanjikannya jalan-jalan setelah pertandingan,sebagai ganti karena jarang ngobrol sejak aku sibuk latihan untuk turnamen ini. Dia bukan jenis gadis yang ngekor kemana aku pergi sih,jadi ketemu paling di kelas.

Sambil jalan, dia berceloteh tentang Gaby,kucingnya yang baru beranak.

“Anaknya tiga,cowok semua. Boleh nggak kunamai arjun,juno dan mojo?” tanyanya.Hahaha,anak ini! Aku hanya tertawa sambil mengacak rambut pendeknya.

Karina Larasati,pacarku itu, memang pintar menceriakan hati orang. Kami sudah lama berteman sebelum akhirnya pacaran, tapi bukan teman yang akrab. Jadi pacaran ini bukan jenis cinta karena ter biasa. Tapi aku juga tak setuju jika dinamai cinta monyet!

Kami berteman sejak SMP,tapi baru sekelas di SMK ini. Dan entah setan (atau malaikat) mana yang merasukinya hari itu saat dia berdiri di pintu kelas,lantang memanggilku dan memproklamirkan bahwa sejak hari itu aku adalah pacarnya. Anak gila :D. Temen-temen mengira dia bercanda, tapi aku tidak. Aku syok ditembak seperti itu. Dan kurasa tembakannya tepat mengenai hatiku.  Menyebalkannya, setelah itu dia bersikap cuek seperti tak terjadi apa-apa,sementara aku jadi hilang konsentrasi karena memikirkan kata-katanya. Aku juga tak berniat menanyakan padanya apakah dia serius atau bercanda. Sebenarnya waktu itu, sepulang sekolah aku menunggunya di parkiran untuk menanggapi pernyataannya, tapi rupanya hari itu dia tak bawa motor, langsung pulang naik angkot.

Jadi sorenya kudatangi dia, gantian kunyatakan dia sebagai pacarku. Wajahnya langsung jadi pink. That’s all. Sepulang dari rumahnya, aku langsung SMS Ririn,Novia, Elsa, Punky dan Widya (semuanya anggota cheerleader) : “Makasih kadonya. Aku suka.Trimakasih juga untuk tawaran jadi pacarnya . Tapi maaf banget,aku nggak bisa pacaran sama kamu. Aku udah punya pacar.” Jiah! Gadis-gadis jaman sekarang, cowokpun dijadikan taruhan. Aku tau diantara anggota cheerleader itu sedang bertaruh, siapa yang berhasil jadi pacarku maka dia yang berhak nentuin koreo dan seragam untuk penampilan mereka.

Jangan tanya kenapa aku mau jadi pacar Karin. Aku sendiri tak tau kenapanya. Tapi mari kuceritakan hal-hal yang membuatku terkesan sama pacarku itu. Teman-teman banyak yang menjulukinya tomboy, tapi lucunya aku pernah beberapa kali memergoki pipinya merona karena tersipu hanya karena kupandangi. Tomboy kok pipinya pink :D. Pernah pula suatu sore aku ke rumahnya dan dibuat kuatir oleh matanya yang sembab seperti habis nangis.

“ Kamu kenapa?” aneh rasanya mengetahui Karin-ku yang kocak bisa nangis. Dia bukan gadis cengeng.

“ Nggak kenapa-kenapa” jawabnya sambil senyum-senyum. Senyumnya nggak sedih. Aku jadi penasaran.

“Cerita dong.Siapa yang dah berani bikin pacarku nangis?”

“Emmm,tapi jangan ketawa ya”

“heh,ketawa? Pacarku jadi nangis masak aku ketawa?Kenapa?”

“Hehehe,Cuma habis nonton drama Korea kok. Abis kasian banget, mama cowoknya gak suka sama si cewek dan dipaksa ngejauhin anaknya. Aku jadi ikut sedih, ngebayangin kalo misalnya kejadian ama kita” jiah! Anak ini! Aku udah kuatir,ternyata karena nonton drama.Hahaha. Tapi aku nggak ketawa, kepeluk dia.

“Ssssh, nggak bakal kejadian ama kita. Mamaku baik kan sama kamu?” dia tersenyum dan mengangguk. Itulah Karin-ku. Banyak hal tak terduga tentangnya, yang semakin aku mengenalnya semakin aku sayang sama dia.

***

Mawar merah dan coklat itu masih di meja kamarku. Ini mawar dan coklat ketiga yang kuterima dari Mas Rizal, pemilik Honda Jazz yang tak sengaja menyerempet motorku di jalan sebulan yang lalu. Aku jadi agak bingung apa maksudnya. Dia kan sudah minta maaf, sudah bayar biaya bengkel untuk motorku juga. Aku udah maafin kok,dan aku kan dah bilang udah punya pacar pas dia tanya ‘udah punya pacar belum?’. Aku cerita ke Juno tentang kecelakaan itu, tapi tidak tentang mawar dan coklat ini meskipun coklatnya selalu kukasihkan ke dia. Bingung. Kuatir dia mengira aku senang dengan pemberian ini, lebih kuatir dikira aku suka sama yang memberi. Dan sekarang, aku mikir ni coklat kukasih ke dia lagi nggak ya. Nanti kalo dia tanya kenapa aku seminggu sekali kasih dia coklat, aku jawab apa?

Mawar dan coklat, terus terang itu pemberian yang romantis. Sebagai gadis normal, aku merasa tersanjung diberi itu, tapi sebagai gadis yang normal pula aku merasa resah karena yang memberi bukan orang yang kuanggap wajar memberikannya. Hmmm… Juno belum pernah memberiku mawar merah dan coklat. Pemberiannya bukan benda-benda yang mewakili rasa romantis. Kaos tangan, kacamata hitam dan kamus Oxford adalah kado darinya untukku saat Valentine, kenaikan kelas dan ulang tahunku. Tapi pacarku yang tak banyak kata itu selalu menyertakan kartu ucapan yang dibuatnya sendiri dengan kata-kata yang membuatku serasa tak bertulang.

“Dipakai ya kalo naek motor…Ini adalah tanganku yang menggenggam tanganmu…menemanimu berangkat dan pulang sekolah…juga kemanapun kau melangkah…” tulisnya menyertai kaos tangan rajut merah marun.

“…biar di jalan gak ada yang melihat mata indahmu lalu kesandung :D”  di kartu yang menyertai kaca mata hitam.

“…buka halaman 251,293 dan 425….” di kartu yang diselipkan di kamus bahasa Inggris. Ketika kubuka halaman-halaman yang dimintanya, kutemui kata I, Love dan You yang distabillo  pink :,,)

Lebih dari itu, pemberian Juno adalah pemberian yang sederhana tapi manis, menyiratkan perhatiannya yang besar padaku…dan menurutku itu jauh lebih romantis dari mawar merah juga coklat. Kuambil coklat mahal dari Mas Rizal itu. Baiklah, tekadku dalam hati. Besok, setelah Juno selesai bertanding, akan kuceritakan semua.

***

Kuajak Karin makan bebek goreng di warung tenda langganan keluargaku. Kami duduk bersebelahan. Dia mengambil sesuatu dari tasnya lalu memberikannya ke aku.

“ Coklat lagi? Makasih ya.Apa aku kurus banget Rin?” tanyaku. Ini hari Minggu ke tiga Karin memberiku coklat. Agak heran aku. Apa menurutnya aku perlu menambah berat badan sehingga secara rutin dia membantuku menaikkan berat badan? Tapi kok mukanya aneh gitu.

“Emm… Jun…” ini anak kenapa sih?

“Hm?”

“Kamu inget Mas Rizal? Itu yang nyrempet aku..”

“Iya. Kenapa?” teringat sesalku tak bisa mengantar Karin ke tempat Bu De-nya waktu itu. Terbayang kaki putihnya yang langsing biru lebam tertindih motornya. Dan masih terasa jengkelku pada orang yang menyerempetnya gara-gara nyetir sambil nelpon tanpa handsfree.

“Emmm..itu coklat dari dia. Juga yang kemaren-kemaren” katanya pelan tapi membuat aku menghadapkan badanku padanya,kupandangi Karin dengan tatapan : tolong jelaskan.

“Sama mawar merah” sambungnya lirih. Aku masih menatapnya.

“Kamu suka dia?” tanyaku. Dia cepat menggeleng.”Lalu kenapa kamu salah tingkah gini?”

“Kamu mandangin aku kayak gitu”keluhnya”aku takut kamu marah”

Aku tak tau rasa apa yang berkecamuk di dadaku. Kenapa Karin baru cerita?

“Dari awal aku udah bilang ke dia aku punya pacar” katanya lagi. Sebelum aku menanggapinya, pesanan kami datang.

“Udah, makan dulu” putusku sambil merubah posisi duduk

“Jun…kamu marah?”tangannya memegang lenganku. Aku menoleh.

“Mana bisa aku marah sama kamu?” aku tak ingin membuatnya kuatir.

“Kamu cemburu?” Kariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnn!!!! Kenapa kamu cerewet sekali?!

“Haruskah?” tanyaku sambil mulai makan. Dia diam, dan entah kenapa bebek goreng di mulutku terasa sangat alot kali ini.

***

Juno…ahhh aku tak tau dia marah atau tidak,cemburu atau tidak,tapi sepanjang perjalanan pulang sore itu dia diam. Dan untuk pertama kalinya selama kami pacaran, dia menarik tanganku untuk memeluk pinggangnya. Aku merasa bodoh telah bercerita padanya dan membuat dia berfikir aku suka Mas Rizal. Di sisi lain aku lega sudah terus terang.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi perasaanku masih resah. Seakan ada sesuatu yang tak enak akan terjadi. Aku juga merasa Juno menarik diri. Saat istirahatpun dia langsung melesat ke lab multimedia, tidak ada acara makan siomay bareng di kantin sekolah denganku. Aku mencoba mengerti, bahwa dia memang sedang sibuk menyelesaikan tugas membuat animasi. Kelompoknya sendiri yang belum selesai karena Nira,satu-satunya cewek di kelompoknya yang harus mendubbing suara tokoh cewek di ceritanya sakit.  Untuk tugas-tugas sekolah, kami memang jarang satu kelompok. Guru mengelompokkan kami seringnya berdasarkan nomor urut absen,sementara nomor kami berjauhan.

Kalaupun kadangkala ada guru yang membebaskan kami membuat kelompok sendiri,kami juga tetap lebih memilih untuk tidak satu kelompok. Thank God kami bukan jenis sejoli yang suka membuat lingkungan sekitar kami risih dengan selalu berduaan dan tak kenal tempat untuk mengekspresikan cinta.

Pacaran dengan teman sekelas itu berat sodara-sodara. Kalau nilaimu lalu merosot, maka akan ada komentar “gak konsen ya di kelas?” atau “pacaran mulu siiiih”. Hah! Aku tak mau pacarku dipersalahkan atas buruknya kompetensi akademikku. Kurasa Juno pun punya pikiran yang sama. Jadi kami menjalani sekolah dengan sungguh-sungguh, untuk membuktikan pada ayah ibuku, mama papanya dan terutama diri kami sendiri bahwa cinta kami (yang kuduga menurut mereka ini ‘hanya’ cinta monyet 😦 )adalah kekuatan positif. Jarang-jarang kan anak umur 16 tahun punya prinsip kayak gini? 😀

Kadang aku tak tahan menahan rindu ngobrol sama dia, menikmati sore sambil makan es krim (Cornetto jadi es krim ‘kebangsaan’ kami sejak kutembak dia hari itu dengan ‘sekuntum’ Cornetto) di belakang rumahnya atau di teras rumahku. Mendengarkan dia bersenandung sambil memetik gitar, atau sekedar duduk bersebelahan online dengan laptop masing-masing : aku dengan drama Asia dan dia dengan game :D. Kalau kangenku sangat keterlaluan, aku akan menggodanya dengan sms-sms konyol seperti ‘kamu masih pacarku?’ yang dijawabnya serius ‘msh.begitupun sebaliknya.jd jgn mcm2’ yang membuatku geli sekaligus terharu. Bagi anak SMK seperti kami,waktu luang adalah hal mewah, maka jika Juno sibuk seperti itu,aku akan berperan jadi pacar yang pengertian :). Apalagi tak sampai sebulan lagi kami akan melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin),jadi semua tugas harus kelar sebelum kami pergi. Memikirkan Prakerin, aku jadi agak sedih. Kemarin sudah diumumkan DU/DI (Dunia Usaha/Dunia Industri) yang akan jadi tempat praktek kami. Satu DU/DI hanya menampung dua sampai empat praktikan. Aku dapat tempat di sebuah production house di Jakarta berdua dengan Alfanira (Nira temen sekelompoknya Juno waktu bikin tugas animasi), sedangkan Juno bertiga dengan Mico dan Aloysius akan praktek di sebuah advertising company di Surabaya…hiks…jauuuh.

“ Mbak Karin, ada tamu” panggilan Mbak Sih (asisten rumah tanggaku) memutus lamunanku.

***

Aku sedang berhenti di traffic light sepulang mengantar Papa ke bandara Ahmad Yani ketika terdengar bunyi sms masuk di hapeku. Karin.

save me. Ke rumahku skrg’ tulisnya. Begitu lampu hijau menyalalangsung kubelokkan mobilku ke arah rumahnya. Hhh…anak ini, bahasanya bikin orang panik aja. Dia jarang langsung meminta seperti itu. Biasanya dia tanya dulu aku sedang apa, kalo aku lagi nggak ngapa-ngapain baru dia bilang mau ngajak kemana.

Aku agak kesulitan memarkir mobilku karena di depan rumahnya ada Honda Jazz biru metalik terparkir. Karin berdiri menungguku di teras. Melihatku, wajahnya begitu lega.

“Di dalam ada Mas Rizal ” bisiknya. Dahiku berkerut. Dadaku bergemuruh oleh tanya apa maunya orang itu, tapi aku laki-laki jadi kuputuskan untuk tetap tenang. Toh akulah yang disms Karin untuk ‘menyelamatkannya’.

Laki-laki itu tampan juga, usianya mungkin sekitar dua puluh tujuh tahunan,terlihat matang dan mapan.

“Sudah lama datangnya Mas?” sapaku mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Lumayan” jawabnya  membalas salamku.

Aku memilih untuk bersikap baik sekaligus menunjukkan padanya aku bukan anak kecil yang galau karena ‘diintimidasi’. Sengaja aku duduk di samping Karin, dan entah kenapa aku malah jadi merasa kami sedang menghadap penghulu. Tanpa sadar aku menggenggam tangan Karin,dingin tangannya sebenarnya mengejutkanku. Begitu takutkah ia? Begitu menakutkankah bagi seorang gadis 16 tahun didatangi pria dewasa yang dari matanya jelas-jelas menyatakan kekaguman dan keinginan? Aku mengeratkan genggamanku,mencoba mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Kurasa dengan genggaman ini aku tak perlu mengenalkan siapa aku pada laki-laki itu.

“Kamu dari mana? Kok cepet banget sampai sini?” tanya Karin padaku, memecah kebekuan atau justru membekukan hati seseorang? Nada senang dalam Kok cepet banget sampai di sini?-nya Karin jelas menyiratkan dialah yang memintaku datang. Bagaimana itu rasanya di telinga Rizal?

“Habis dari ngantar Papa” jawabku. Tak perlu waktu lama, akhirnya Rizal pamit. Kami mengantarnya ke teras masih dengan bergenggaman tangan, sambil melambaikan tangan padanya mengucapkan selamat jalan. Aku harap sebagai pria dewasa dia mengerti, bahwa tak seharusnya dia ‘mengganggu’ Karinku lagi.

“Makasih ya Jun” kata Karin setelah Rizal berlalu. Aku mengambil tangan kirinya dan melingkarkannya di pinggangku.

“Segitu takutnya?”godaku.

“Juno…” rajuknya. Aku suka wajah pinknya.

Sore itu akhirnya kami nikmati dengan maen otello berdua di teras rumahnya. Rupanya Karin cuma berdua sama pembantunya, orangtuanya sedang pergi  bezuk tetangga ke rumah sakit di luar kota. Kutemani dia sampai ayah ibunya datang. Saat ada Wall’s man lewat, kupanggil dia dan membeli Cornetto untukku dan Karin. Es Krim bersejarah dalam kisah kami. Sore yang indah…dimana aku jadi superhero buat pacarku :D.

***

Tak terasa seminggu lagi kami akan berangkat prakerin, tapi bukannya aku dan Juno semakin sering bersama. Entahlah, kuamati dia sibuk sekali. Seperti siang ini, aku ke kantin,dia ke lab multimedia. Saat bel masuk berbunyi, aku mampir toilet dulu. Disana ada Dewi teman lain kelas yang sedang cuci tangan.

“ Eh,kamu tau nggak sih Wi,Nira putus loh sama sama Day. Dan disinyalir gara-gara Nira ada affair sama Juno” aku dan Dewi sama-sama tertegun mendengar suara dari dalam toilet,aku tak kenal suaranya. Aku seperti terpaku di tempatku berdiri, menanti siapa yang keluar dari toilet itu. Zera ,temen sekelas Dewi,pias begitu keluar dari toilet dan mendapati aku berdiri di situ.

“Benarkah yang kamu bilang?” tanyaku kelu.

“ Benar Nira dan Day putus, tapi sebabnya aku belum jelas” salah tingkah Zera menjawab.

Day,pacar Nira, adalah teman sekelas Dewi dan Zera. Lunglai aku berjalan ke kelasku,tetap kucoba positive thinking terhadap semua kesibukan Juno dan kedekatannya dengan Nira meski tugas mereka sudah selesai. Aku bukan orang yang mudah mengungkapkan rasa cemburu. Pikirku, memperlihatkan rasa cemburu hanya akan menimbulkan masalah tak penting dan menurunkan harga diriku. Aku selalu berhasil mengatasinya, meski mungkin bayarannya adalah mataku sembab keesokan paginya karena menangis semalaman.

Juno sudah duduk manis di kursinya saat aku masuk kelas. Dia tersenyum,tapi aku hanya memandangnya. Sungguh aku ingin bertanya padanya, tapi tak tau harus bagaimana menyusun kalimatnya. Nira kulihat santai mengobrol dengan Niswah teman sebangkunya. Wajahnya yang putih bersih terlihat berseri saat dia tersenyum. Kunikmati detik-detik berikutnya dengan rasa tak nyaman. Sesekali kumencuri pandang pada Juno yang sedang memperhatikan Pak Reza yang sedang menerangkan pelajaran, yang sayangnya sesekali pula dia memergokiku sedang menatapnya. Ahhhh, rasa perih di dada ini apa namanya? Bagaimana mungkin sesakit ini sedang aku belum tau secara pasti kebenaran gosip itu. Aku…. cemburu.

***

Ada yang aneh dengan Karin. Dia pendiam sekali bahkan smspun tidak. Kalau kusms duluan,pasti jawabannya pendek dan membuatku mati kata. Kuajak jalan-jalan juga tak mau (sebenarnya aku bersyukur dia tidak mau, karena aku sangat sibuk menjelang Prakerin). Bukannya aku tak kangen padanya, tapi aku sedang mengejar waktu untuk menyelesaikan sesuatu yang tak bisa kuceritakan pada Karin sekarang.

Meskipun aku tak tau kenapa ia jadi pendiam, aku tetap berusaha jadi pacar yang baik. Karena dia sedang tidak mau aku main ke rumahnya atau sebaliknya sekedar untuk ngobrol, jadi kupilih untuk mencari perhatiannya lewat sms tak peduli dia acuh tak acuh saja menjawabnya.

Ke Jktnya mau naik apa,hun? Tanyaku lewat sms

Pswt , balasnya. Tanpa balas memanggil ‘hun’

Udah beli tiket?

                Udah

                Berangkat yg jam brp?

                7

                Ke Semarangnya dianter siapa?

                Ayah

                Boleh aku ikut nganter?

                Blh

                Kusamperin jam brp?

                4.30

                Ok. Muwwaaaahhh.

                Yang terakhir itu tidak dibalasnya. Tak apa, mungkin dia sedang pra menstruasi syndrome 😀

***

Dari Solo, aku diantar pulang ke Salatiga oleh Om-ku. Sebenarnya agak capek juga pergi ke Solo sementara besok pagi-pagi sekali aku harus ke Semarang lalu terbang ke Jakarta,tapi demi mohon doa restu Nenekku untuk kelancaran Prakerin-ku,maka capek tak boleh masuk kamus. Apalagi tadi Nenek senang sekali aku datang.

“Cuma kamu cucuku yang tiap mau ujian mohon doa restu” puji Nenek tadi sambil menciumku. Ya, sepertinya ayah ibuku berhasil membiasakan aku untuk selalu mohon doa pada satu-satunya Nenekku itu. Ayah dan Ibuku sendiri juga selalu mohon doa ibu dari ayahku itu tiap mau melakukan suatu kegiatan penting.

Sudah agak larut aku sampai Salatiga, gerimis pula. Dalam hati kuberharap cepat sampai rumah agar aku bisa segera tidur dan besok pagi tak ketinggalan pesawat. Besok Juno mau ikut mengantarku. Dia sendiri akan berangkat ke Surabaya keesokan paginya. Saat dia bilang mau ikut mengantarku, entah kenapa aku tak bisa menolaknya meski di hatiku masih ada ganjalan. Mungkin rasa cintaku padanya lebih besar dari rasa cemburuku,pikirku. Tapi sedetik kemudian, pikiranku itu hancur berkeping-keping mematahkan hatiku demi kulihat motor yang berhenti di samping mobil Omku. Juno berboncengan dengan Nira. Nira mengenakan jaket Juno yang kuhapal. Darimana mereka selarut ini? Ada perih dalam dadaku,sangat. Perih karena cemburu dan rasa kalah demi melihat keserasian mereka. Dadaku sakit,tapi aku tak bisa menangis…..

***

Selepas salat subuh aku langsung memacu mobilku ke rumah Karin. Dia sudah siap, ayah ibunya juga.

” Biar ayah yang nyetir, kamu biar bisa ngobrol sama Karin. Mau lama nggak ketemu kan? ” kata ayah karin. Aku jadi salah tingkah ‘diserang’ begitu. Kuserahkan kunci pada beliau lalu membantu Karin memasukkan koper-kopernya ke mobil. Aku merasa aneh atas sikap Karin, dia seperti tak nyaman, dan dia juga nggak mau menatapku. Kenapa sih ni anak.

Perjalanan ke Bandara Ahmad Yani terasa sunyi, hanya sesekali terdengar suara ayah Karin ngobrol sama ibunya. Karena tak tau harus ngomong apa (nggak mungkin kan aku nanyain dia kenapa sementara ayah ibunya duduk mendengarkan? 😦 ), kugenggam saja tangan Karin, dia berusaha menarik tangannya dari genggamanku, tapi aku bertahan. Aku tak akan melepasnya sampai Bandara, sesuatu berkata dalam hatiku, jika aku tak mempertahankan genggamanku, aku akan kehilangan dia…..

***

Pagi itu Juno menepati janjinya mengantarku ke bandara. Setelah perjalanan yang kami lalui dalam diam dan dengan tanganku erat digenggamnya,kami sampai bandara. Menunggu waktu boarding, kami hanya duduk diam, kali ini diam yang tak nyaman. Aku ingin bertanya, butuh penjelasan tentang semua gosip itu dan apa yang kulihat semalam, disisi lain terlalu gengsi aku untuk mengakui dan terlihat cemburu, jadi aku diam. Aku tau Juno merasa diamku kali ini aneh dan dia tersiksa, tapi lebih tersiksa siapa coba? Dan ketersiksaanku bertambah saat melihat Nira datang diantar ayahnya. Nira selalu saja tampak menawan.Dan ketika kulihat senyum Juno padanya , juga tatap mata yang seperti sedang saling mengatakan kode-kode rahasia,hancur sudah hatiku. Sepertinya aku tak butuh penjelasan, yang kubutuhkan adalah panggilan boarding agar segera pergi menjauh dari Juno. Dan Tuhan begitu baik mengabulkannya.

Kucium tangan Ayah dan Ibu, kusalami Juno.

“Hati- hati ya Hun, jaga kesehatan. I missed you already” bisiknya pelan. Sungguh aku pengen nangis, tapi mungkin itu akan tampak lebai, jadi aku tersenyum mengangguk saja.

Aku dan Nira duduk bersebelahan di pesawat. Betapa tersiksanya itu. Pemandangan semalam dia membonceng Juno dalam hujan tak mau hilang dari ingatan. Aku bukan jenis gadis yang menjambak rambut gadis lainnya hanya untuk seorang cowok, tapi untuk beramah-ramah sama Nira kali ini sungguh bertentangan dengan apa yang kurasakan. Maka demi untuk kelihatan aku sedang mengerjakan sesuatau, aku maen BB. Dan tepat sebelum pramugari memperingatkan agar mematikan hape karena pesawat mau take off, kukirim BBM ke Juno.

***

Aku terpaku menatap layar BBku

” Pengen nggak percaya sama gosip-gosip itu, tapi semalam aku melihatmu boncengan dalam gerimis sama Nira. Let’s break up”. KARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNN!!!!!!

Tapi itu hanya hatiku yang berteriak memanggilnya yang sudah take off, pada kenyataannya aku berdiri terpaku menatap punggung ayah dan ibu Karin  yang berjalan di depanku. Mungkin menyadari aku tak mengikuti mereka,ibu Karin menoleh. Wajahnya bertanya-tanya menatapku yang berhenti melangkah.

” Ada apa Nak?” tanyanya kuatir sambil mendekatiku. Butuh beberapa saat